[1] Book’s Review: Remember Amsterdam – Vira Safitri

 

3cb66722de63219c322d856a463b14c9

 

Keterangan Buku:

Judul: Remember Amsterdam

Penulis: Vira Safitri

Editor: Astheria Melliza

Desain Sampul: Marcel A. W.

Penerbit:  PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2015

Tebal: 368 hlm; 20 cm

ISBN: 978-602-03-2336-7

Rating: 4/5

 

Blurb:

Amy Maycott sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Ton van der Deen. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu,

                Pelarian Amy ke Amsterdam mempertemukan gadis itu dengan Liam Sparks, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Amy yang kikuk dan misterius, membuat Liam tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.

                Perasaan Liam yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Amy Maycott bukanlah gadis sembarangan, membuat Liam jadi mempertanyakan niatnya. Amy pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Amy kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?

“Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah ke hati yang lebih menghargainya.”

 

Berkisah tentang Amy Maycott yang memilih menolak pernikahan yang diatur oleh ibunya dan melarikan diri ke Amsterdam. Keputusannya untuk mencoba menjalin hubungan atas dasar perjodohan selama dua tahun ini memang tak bisa lagi ia lanjutkan. Angelien Lanning merupakan seorang ibu yang dingin, dan selalu mengatur kehidupan Amy Maycott. Termasuk dengan memaksanya untuk bekerja sebagai kurator dan mengubur impiannya  melanjutkan sekolah di Royal College Of Art untuk menjadi seorang pelukis, serta menjodohkannya dengan orang yang tidak dicintainya.  Aksi kaburnya Amy mempertemukan ia dengan Liam Sparks, seorang musisi yang sedang naik daun dan digandrungi para remaja. Namun awal pertemuan mereka diwarnai dengan berbagai kebodohan Amy yang takut naik pesawat. Dimulai dari terjebak di toilet bandara, mengorek isi tong sampah, hingga pingsannya Amy di pesawat. Namun inilah yang membuat Liam Sparks tertarik pada Amy Maycott. Seorang gadis yang polos, misterius, dan berbeda merupakan perpaduan yang pas baginya untuk menjadikan Amy tameng agar terhindar dari sorotan media tentang dirinya dan mantan ===kekasihnya, Irina Everhart.

Kedekatan yang terus berlanjut malah membuat keduanya menyadari bahwa ada rasa berbeda yang perlahan mulai muncul.  Namun saat mereka baru saja menyadarinya, Ton van der Deen yang pada saat itu sudah mengetahui rumor kedekatan mereka di media langsung pergi ke Amsterdam untuk mencari Amy sekaligus menemui musuh yang sudah mencuri hati tunangannya, Liam Sparks.

Lalu apa yang akan Amy lakukan? Menyerahkan kebahagiaannya pada Ton,  laki-laki yang tidak dicintainya ataukah pada musisi terkenal sekelas Liam yang terlihat masih mencintai mantan kekasihnya?

 


 

Konflik pada novel ini memang termasuk ringan. Dengan alur maju yang digunakan Vira Safitri, pembaca diajak untuk terhanyut oleh setiap tokoh dan konfliknya. Namun sayangnya untuk novel yang tebalnya kurang lebih 400 halaman ini, alur yang yang disediakan tergolong agak lambat walaupun di penghujung cerita hal tersebut sedikit berkurang.

Gaya penulisan memang sederhana namun manis. Mengalir begitu saja sehingga nikmat untuk dibaca. Tokoh utama maupun pendukung yang dihadirkan pun memiliki karakter yang kuat. Untuk tokoh utama aku sangat menyukai bagaimana cara penulis membuatku jengkel dengan Ton yang sedikit kasar dalam berperilaku. Sedangkan untuk peran pendukung, karakter Karen sangat aku suka karena cenderung ceplas-ceplos dan realistis.

Untuk sebuah novel yang bersetting di negara orang, setiap tempat yang dikunjungi oleh Liam dan Amy bukan hanya sekadar tempelan belaka. Penulis memberikan penjabaran detail tempat tersebut sehingga membuatku merasa dimanjakan dengan pesona negara Belanda. Vira Safitri pun menyelipkan beberapa kebiasaan khas orang Belanda.

 

“Bukan hanya kamarku. Orang-orang di Belanda memang senang membiarkan lampu kamar mereka menyala pada malam hari. Mereka senang diperhatikan.” –Remember Amsterdam, hlm. 151

 

Hal yang sedikit menggangguku dari awal adalah istilah yang digunakan dalam musik dan lukis. Tidak ada penjelasan jelas yang membuat para pembaca mungkin akan sedikit kebingungan dan berakhir dengan menerka-nerka. Selain itu, ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa Belanda tanpa terjemahannya. Dua hal yang membuatku terganggu ini memang pada akhirnya memancing rasa penasaran untuk mencari tahu namun menurutku akan lebih baik lagi kalau ada penjelasannya secara langsung.

Pesan moral yang kudapat dari novel ini adalah bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Karena memang sejujurnya, semua yang dipaksakan itu cenderung berakhir tidak baik, bahkan buruk.

 

Beberapa kalimat favoritku dalam Remember Amsterdam:

  • Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah. Berpindah ke hati yang lebih menghargainya. (Hlm. 78)
  • Cinta yang sempurna lahir tanpa syarat, hati-hati dengan perasaan yang muncul karena obsesi semata. Sebelum kau membuat keputusan, ada baiknya kau memastikan perasaanmu sendiri. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena mengikuti emosi yang keliru. (Hlm. 78-79)
  • Kau tidak harus selalu menyenangkan orang lain. (Hlm. 119)
  • Hei, hidupmu bukan untuk menyenangkan orang lain semata. Apalah arti menyenangkan orang lain bila kau tidak bisa menikmati hidupmu sendiri? (Hlm. 119)
  • Terkadang pilihan yang keliru membawa kita pada jalan yang benar—kalau kau percaya cara kerja takdir memang begitu. (Hlm. 121)
  • Cinta berasal dari ketulusan hati, tapi pernikahan adalah belajar bertanggung jawab, mengatasi masalah bersama, dan membangun hubungan jangka panjang. (Hlm. 135)
  • Semua orang takut pada sesuatu. Kehilangan sesuatu, mencintai sesuatu, mengakui sesuatu, tapi hal itu seharusnya tidak membuatmu menjadi pengecut. (Hlm. 248)
  • ‘Melepaskan’ bukan sebuah hobi. Kau harus belajar mempertahankan. (Hlm. 260)
  • Sebesar apapun cinta yang kaumiliki untuk seseorang yang tidak mencintaimu, segalanya akan sia-sia pada akhirnya. (Hlm. 291)
  • Cinta tak bisa dipaksakan. (Hlm. 295)
  • Cinta itu tak selamanya adil. Terkadang dia membuat kita berjuang melawan sesuatu yang sudah jelas tidak bisa kita menangkan. Lebih parah lagi, mampu membuat kita bahagia dan menderita pada waktu yang sama, bukan begitu? (Hlm. 296)
  • Waktu bisa membuat siapa pun berubah. (Hlm. 306)
  • Terkadang di saat kita mencintai orang lain dan berusaha menjadi yang terbaik untuknya, kita tidak menyadari ada orang lain yang mencintai kita tanpa perlu berusaha. (Hlm. 334)
  • Walau hanya sebatas pelukan, bukankah cinta semestinya membuat segala hal sederhana menjadi terang dan menyenangkan? (Hlm. 365)

 

Overall, aku berikan 4/5 bintang untuk novel ini. Untuk kalian yang sedang mencari bacaan ringan dengan kisah cinta yang manis, aku rekomendasikan novel Remember Amsterdam sebagai pilihan bacaan kalian selanjutnya. Tschuss!

 

 

Cheers,

 

Ari

Iklan

2 thoughts on “[1] Book’s Review: Remember Amsterdam – Vira Safitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s