[2] Book’s Review: Marriage of Convenience – Shanti

25955790Keterangan Buku:

Judul: Marriage Of Convenience

Penulis : Shanti

Editor: Afrianty P. Pardede

Desain Sampul: Affan Hakim

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo

Terbit: 2015

Tebal: 305 halaman

ISBN: 978-602-02-6909-2

Rating: 3/5

Blurb:

-Krishna-

Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha keras memahami isinya. Oh bukan, aku paham betul apa isinya. Lebih tepatnya sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Krishna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang ayah.

 

-Dita-

Aku menatap rintik hujan yang semakin menderas. Tidak berniat sedikitpun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak 3 jam lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. di sini, di dadaku. Dan disini. Aku meraba perutku perlahan. Yah, Nak. Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindita Sahaja, akan menjadi single mother.

 

 

Ini kali kesekian aku membaca seri buku Le Marriage terbitan Elex Media. Dan untuk kesekian kali pula aku kembali jatuh cinta pada cerita-ceritanya yang sangat menarik. Tak terkecuali Marriage Of Convenience ini.

 

Ini tentang kisah Krishna dan Dita yang kembali dipertemukan oleh takdir di Taman Suropati setelah sekian lama lost contact. Ya, takdir kembali bekerja. Khrisna adalah kakak kelas Dita saat SMA, dan ia sudah lama memendam rasa pada Dita. Sayangnya, perasaan itu tak pernah terungkap hingga pada saat Krishna mengetahui kondisi Dita, ia pun menawarkan pernikahan ‘simbiosis mutualisme’ yang menguntungkan bagi keduanya. Khrisna dengan keuntungannya yang dapat menjadi seorang ayah karena ia didiagnosis tidak akan pernah mempunyai anak, sedangkan Dita yang bisa mendapatkan status sebagai seorang istri yang mana tak ia dapatkan dari laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilannya, Adit. Taktik yang sebenarnya Krishna tawarkan agar bisa merebut hati Dita kembali.

 

‘Tapi selalu ada kali pertama untuk segalanya, kan?Marriage Of Convenience, hlm. 34

 

Awal pernikahan mereka tidak ada kendala berarti, walau masih ada sedikit kecanggungan. Untuk kontak fisik, Krishna masih menghindari hal ini karena ia tahu, Dita masih mengalami trauma atas perbuatan mantan pacarnya itu. Krishna, si ganteng, tajir, perhatian, dan baik ini tentu saja akan menunggu Dita hingga siap. Konflik mulai bergulir ketika mantan pacar Krishna saat di London muncul dengan segala hal yang menerbitkan rasa ragu pada Dita. Pun dengan kemunculan Adit yang meminta Dita untuk kembali padanya. Apakah Dita mengiyakan permintaan mantan pacarnya tersebut? Lalu bagaimana saat Krishna mengetahui Dita diculik oleh seseorang tak dikenal? Apakah kembalinya Krishna ke London akan mengakhiri hubungan mereka?

 

‘Tidak ada gunanya melihat masa lalu. Yang penting adalah saat ini. Dan nanti.’ Marriage Of Convenience, hlm. 76

 


 

 

Aku sangat menikmati waktuku saat membaca novel ini. Gaya kepenulisan yang sederhana serta mudah dimengerti, membuatku tak terasa sudah berada di halaman terakhir. Untuk ide cerita, aku cukup puas dengan idenya yang tak biasa dan informatif. Sebagai pembaca, aku bisa sedikit tahu tentang penyakit Azoospermia. Aku pun banyak dibuat tertawa dengan tingkah kocak dan percakapan-percakapan konyol an antar para tokoh. Untuk tokoh utama, aku paling menyukai Krishna dengan segala kesempurnaannya; super pintar, perhatian, sabar, tampan, banyak koneksi dimana-mana, dan tipikal laki-laki yang sweet banget. Manisnya karakter Krishna ini diperkuat pula dengan panggilan sayang yang ia berikan untuk Dita sejak SMA yaitu ‘Ijah’, dan tas butut yang masih ia pakai selama 9 bloody years hanya karena satu alasan; itu pemberian dari Ijah! Damn, how sweet is that?

 

Kisah ini juga tidak sekadar menawarkan cerita cinta saja, namun juga persahabatan. Penulis sukses membuatku merasa iri dengan kedekatan Dita-Arimbi dan Krishna-Barga sebagai sahabat. Bahkan Tante Rini—Mamanya Khrisna—menganggap Krishna sudah putar haluan dengan menyukai Barga karena mereka selalu nempel dimanapun, dan kapanpun. Persahabatan Krishna dan Barga dituturkan secara gamblang sehingga pembaca bisa ikut merasakan betapa eratnya hubungan persahabatan yang mereka miliki.

 

Namun ada beberapa hal yang aku sayangkan dalam novel ini. Salah satunya adalah banyaknya kehadiran tokoh yang menurutku tidak terlalu memberikan dampak besar pada jalan cerita. Bahkan saat di pertengahan buku, aku sampai kembali lagi ke beberapa bab sebelumnya hanya untuk kembali mengingat siapa tokoh ini, siapa tokoh itu.

Lalu, eksekusi penyelesaian konflik yang kurang mantap, pun dengan epilognya. Konflik-konflik yang dihadirkan menurutku sangat bagus, terutama untuk penyakit yang di derita Krishna dan kondisi kehamilan Dita. Sayangnya, konflik ini diakhiri dengan begitu saja, yang mana seharusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Begitu pun dengan masalah Sashi, Adit, dan juga permintaan Dita yang ingin bercerai.

Selain itu, aku banyak sekali menemukan beberapa kalimat bahasa inggris di setiap halaman. Walau aku menyukai selipan-selipan kalimat bahasa inggris di dalam sebuah buku dan sama sekali tak terganggu dengan keberadaannya, tak sedikit pula pembaca yang merasa terganggu akan hal ini. Yah, memang kurasa pemakaian bahasa inggris di MoC ini untuk menegaskan cerita para tokohnya yang memang tergolong anak muda.

Oh iya, tak jarang pula aku masih menemukan typo, tapi tak sedikit pun mengurangi keasyikan aku saat membaca novel ini.

 

Overall, aku berikan 3/5 bintang untuk novel romantis kocak namun manis ini. Untuk kalian yang sedang mencari bacaan romantis yang ringan, menghibur, dan cocok untuk dibaca dalam sekali duduk, aku rekomendasikan novel ini sebagai pilihan bacaan kalian selanjutnya. Tschuss!

 

 

 

Cheers,

 

Ari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s