[3] Book’s Review: Habis Galau Terbitlah Move On – J. Sumardianta

 23606291

 Keterangan Buku:

Judul: Habis Galau Terbitlah Move On

Penulis : J. Sumardianta

Penyunting: Iqbal Dawami

Desain Sampul: Adipagi

Pemeriksa aksara: Yusnida

Penata aksara: Arya Zendi

Penerbit: PT. Bentang Pustaka

Terbit: 2014

Tebal: 330 hlm; 20,5 cm

ISBN: 978-602-291-067-1

Rating: 4/5

 

Blurb:

 

“J. Sumardianta adalah guru anak pertama saya saat SMA. Dia jadi guru idola karena penampilan ‘Mbangun Desa’-nya.” –Butet Kartaredjasa, aktor

 

Inilah pemandangan umum pada zaman gadget: orang-orang mengirim dan menerima surel sembari mengetik BBM dan WhatsApp, update status di Twitter, Facebook, dan Path, dan secara simultan mengecek perkembangan dunia di situs berita online. Bisa dibilang, manusia zaman digital lebih sengsara bila fakir sinyal ketimbang fakir miskin.

 

Gadget memaksa orang berpikir dan bertindak paralel. Orang-orang yang tak siap akan hanyut ke dalam kedangkalan, serbapraktis, dan serbamanja. Kena galau setitik rusak move on sebelanga.

 

Melalu buku ini, Pak Guru Gokil, sang pendidik di era digital, tak lagi menjadikan ruang kelas sebagai laboratorium pendidikannya. Ia mengepakkan sayap ke berbagai penjuru dunia, menjahit kisah-kisah heroik manusia melawan kerasnya hidup. Sebuah upaya melawan kebiasaan serba-instan layaknya perilaku masyarakat dgital. Dan, inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya, ketika manusia mampu menghadapi situasi terpelik yang mengikis semangat hidupnya.

 


 

Sehebat-hebatnya orang sukses, tak lain mereka yang habis nyesek bisa move on.

 

 

“Galau” dan “Move On” adalah ungkapan yang sedang populer khususnya di kalangan para remaja. Istilah ini memang sering digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang membuat seseorang bersedih—untuk anak remaja tentu saja banyak sekali penyebabnya—terutama pada zaman internet. Buku Habis Galau Terbitlah Move On ini berbicara tentang pesimisme (galau) dan optimisme (move on). Untuk sebuah buku berisi kisah-kisah yang inspiratif, pemilihan judul tersebut sangat terasa ‘pas’ dengan isi bukunya.

 

Kisah inspiratif dalam buku ini menyelipkan beberapa biografi seorang tokoh maupun kasus dan mengaitkannya dengan bahasan utama buku ini, yaitu upaya manusia untuk berusaha keras agar bisa move on. Hampir semua tokoh dan kasus di dalamnya merupakan ‘orang’ dan ‘sesuatu’ yang baru aku ketahui.

 

Dari segi gaya penulisan si penulis, aku cukup dibuat kewalahan dengan kata-kata dalam buku HGTMO ini yang banyak tidak kuketahui sebelumnya. Alhasil, KBBI setia menemaniku saat membaca buku ini untuk mencari kosa kata yang terkadang membuatku bingung.

 

Tetapi ada satu bahasan yang sangat menyita perhatianku dalam buku ini. Di beberapa halaman awal, aku sudah disuguhi dengan ‘Pendapat Kritis Gene Netto’ soal sistem pendidikan di Indonesia. Boleh jadi sistem pendidikan kita memang bisa dikatakan tidak baik dan tidak adil dibanding negara lain setelah aku membaca pendapat Gene Netto tersebut. Selain pendapat Gene Netto yang sedikit menamparku lewat kalimat-kalimatnya akan mirisnya sistem pendidikan di Indonesia, HGTMO juga menyelipkan sindiran halus soal perangkat utama pendidikan, yaitu si pengajar alias gurunya.

 

Sudah bukan zamannya guru buta internet dan tuli socmed. Watak socmed itu dialog (interaktif). Beda dengan perilaku guru yang cenderung monolog saat berinteraksi dengan murid di kelas. Para guru bakal mati kutu bila pada era socmed cenderung bersikap eksklusif, pola relasinya tetap vertikal dan individual.

 

Guru zaman digital harus inklusif, horisontal, dan sosial. Guru tidak bakal ditengok bila masih berparadigma analog. Guru era digital tidak mungkin mengajar dan mendidik dengan cara-cara zaman kertas. Zaman digital itu zaman VUCA: Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit penuh komplikasi), dan Ambiguity (membingungkan penuh paradoks).

 

Sekolah menjadi seperti bebek lumpuh termakan sikap kepengecutan dan kepecundangan gurunya sendiri. Sekolah tak ubahnya minimarket tempat pelanggan bisa datang-pergi seenaknya sendiri karena mampu membayar mahal.

 

Ya, salah satu hal yang membuatku menyukai buku ini adalah selain karena buku HGTMO ini penuh dengan pesan-pesan universalnya yang khas, di dalamnya pun diselipkan banyak sindiran halus untuk berbagai kalangan. Aku pun beberapa kali dibuat terperangah dengan pemikiran si penulis yang sangat terbuka pada hal-hal negatif yang berseliweran di masyarakat. Mungkin karena buku ini memang ditulis oleh seseorang yang berlatar belakang seorang pendidik(karena sampai saat ini, aku masih berpikir bahwa guru sangat hebat dalam menilai sesuatu yang dipandang sebelah mata oleh orang lain). Meskipun ditulis menggunakan sudut pandang seorang pendidik, buku ini bisa dinikmati siapapun, bukan hanya kalangan guru saja.

 

Beberapa kalimat favoritku dalam Habis Galau Terbitlah Move On:

 

  • Kesombongan dikalahkan kesederhanaan. Omong kosong dimentahkan kerja nyata. Siasat dibabat kerja keras, cerdas, ikhlas, dan tuntas. Partisipasi mempecundangi mobilisasi. Kesadaran merobohkan intimidasi. (Hlm. 20)
  • Orang bilang hidup adalah pencarian jati diri. Dalam diri manusia sudah melekat begitu banyak jati diri. Mengapa masih harus dicari? (Hlm. 51)
  • Mengapa empati sangat langka? Karena persaingan antarparadigma lebih banyak dimenangkan “cara berpikirku” dan “cara berpikirmu”, bukan “cara berpikir kita”. (Hlm. 56)
  • Berusahalah terlebih dahulu untuk mengerti, baru kemudian dimengerti. “Keberanian bukan berarti tiadanya rasa takut, melainkan kemenangan atas ketakutan. Berani bukan berarti dia yang tidak merasa takut, melainkan yang berhasil mengalahkan rasa takut.” (Hlm. 57)
  • Kebajikan itu terjadi bukan karena olah batin, melainkan dengan Jika dengan bekerja keras, orang toh tetap berkekurangan, perlahan-lahan orang itu dipaksa menerima kenyataan hidup apa adanya. Dengan cara inilah orang menemukan ketenteraman.
  • Syukur adalah jaminan kesehatan. Cinta adalah sumber kesehatan. Syukur membuat orang tidak mudah terjerumus ke dalam perangkap siklus materialisme abadi. Manusia tidak akan pernah puas, bahkan setelah memiliki kapal pesiar, rumah megah, dan piranti bermerek. Padahal, tidak ada kantong saku di kain kafan penguburan mereka. (Hlm. 119)
  • “Jangan memburu harta dan kedudukan. Otomatis semuanya bakal kamu peroleh bila kamu memperjuangkannya dengan penuh percaya diri dari waktu ke waktu. Sebaliknya, harta dan kedudukan yang telah kamu perjuangkan mati-matian bisa lenyap hanya dalam waktu semalam. Berusahalah hidup dengan kokoh dan stabil. Jangan mengkhawatirkan ketidakberuntungan. Jangan merindukan kebahagiaan. Semuanya sama. Kepahitan tidak berlangsung selamanya. Dan, keindahan tidak akan memenuhi cangkir sampai meluap.” (Hlm. 201)
  • Mengalah itu bukan kalah. Mereka lebih rentan dan menanggung risiko. Jangan terpancing oleh tegangnya emosi. Mereka pelatih kesabaran pribadi paling hebat. (Hlm. 225)
  • Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan itu ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan itu kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan hasil dari tidak ada kasih sayang Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas. Setali tiga uang, gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya. (Hlm. 252)
  • Baik saja tidak cukup kalau yang lebih baik masih tersedia dan yang terbaik masih mungkin. (Hlm. 293)
  • Cinta ialah “penggugah” jiwa tanpa memerlukan tangga. Cintai siapa saja yang sepatutnya. Cintai sepatumu yang mulai butut, selimutmu yang kumal dan rimpil, rambutmu yang sudah mulai kemerahan, bercabang, atau rontok. Cintai penggorengan di dapurmu yang lama tak dipakai lantaran lebih praktis berwisata lidah di warung-warung kuliner. Cintai kacamata yang telah memberikan sambungan penglihatanmu. Namun, jangan cintai duniamu berlebihan. Jabatan tinggi dan hartamu bisa menghempaskanmu ke comberan, begitu kau lupa diri. (Hlm. 317)

 

Overall, aku berikan 4/5 bintang untuk buku penuh inspirasi ini. Untuk kalian yang sedang mencari bacaan berat dengan kisah inspiratif didalamnya, aku rekomendasikan Habis Galau Terbitlah Move On sebagai pilihan bacaan kalian selanjutnya. Tschuss!

 

 

Cheers,

 

Ari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s